Jumat, 09 Maret 2012

Jagalah Otak Anda

Oleh KH. Jalaluddin Rakhmat

Di sebelah barat Amerika, pada masa Wild West, 13 September 1848. Sebuah kecelakaan bersejarah terjadi. Kecelakaan yang mengubah paradigma dalam kedokteran dan psikologi. Seperti dalam cerita-cerita cowboy, semuanya bermula dari pembangunan rel kereta api. Phineas Gage adalah yang punya lakon. Ia memimpin sekelompok orang yang bertugas meledakkan bukit dan bebatuan. Pada siang hari yang panas, Gage memasukkan mesiu ke dalam lubang di bukit batu. Secara tidak sengaja ia mendorong mesiu itu dengan batang besi yang pendek. Tiba-tiba mesiu meledak tepat di depan wajahnya. Batang besi itu menerobos masuk dari pipi kirinya, melintasi otak di belakang matanya, menyeruak ke luar batok kepalanya, dan mendarat kira-kira 23 meter di sampingnya.

“Setelah luka kepalanya sembuh, Gage tampak hidup normal. Ia berbicara rasional dan kemampuan berpikirnya tampak utuh. Tapi segera orang melihat ada perubahan besar dalam dirinya. Dahulu Gage dikenal sebagai pengusaha yang sabar, energis, dan cerdas dengan “jiwa yang serasi”. Setelah kecelakaan, ia tampaknya kehilangan beberapa karakternya yang esensial. Ia menjadi kasar, berangasan, pemberang, temperamental.

Selasa, 31 Januari 2012

Press Release IJABI Menyikapi Pernyataan Menteri Agama bahwa "Syiah bukan Islam"

oleh Emilia R Az pada 26 Januari 2012 pukul 19:51


Pengurus Pusat Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia  menyesalkan dengan sangat pernyataan Menteri Agama, pada 25 Januari 2012, dengan alasan-alasan berikut:

Pernyataan ini dikeluarkan ketika  negara Kesatuan Repulik Indonesia  terancam karena ulah sekelompok orang yang mengatas-namakan perbedaan paham dalam agama untuk menyalakan permusuhan di antara  kelompok umat beragama.   Pernyataan  itu, yang dikeluarkan oleh pejabat yang seharusnya melindungi semua kelompok agama, telah menaburkan bensin di atas bara yang mulai bernyala.

Menteri Agama merujuk kepada Surat Edaran Menteri Agama no D/BA.014865/1983  pada zaman Orde Baru. Surat Edaran ini telah batal demi  hukum, karena ia bertentangan dengan  Konstitusi RI , UUD 1945, Bab XI, Pasal 29.  Untuk itu, ia dapat digugat/dituntut secara hukum melalui mekanisme peraturan yang berlaku.

Menteri Agama juga mengacu kepada rekomendasi Rapat  Kerja Nasional Majlis Ulama Indonesia pada 7 Maret 1984, juga pada zaman Orde Baru.  Rekomendasi itu tidak menyatakan Syiah sesat atau bukan Islam.  Ia hanya menganjurkan umat Islam Indonesia untuk waspada.  Pada tanggal 1 Januari 2012, salah seorang Ketua MUI, Prof. Dr. Umar  Shihab, menyatakan MUI  berprinsip bahwa Syiah tidak sesat  dan “mengimbau umat Islam tidak terpecah belah dan menjaga ukhuwah islamiah serta tidak melakukan tindak kekerasan terhadap golongan berbeda”

Mengapa Menag mengacu kepada rekomendasi rakernas yang sudah kedaluwarsa dan mengabaikan pernyataan MUI yang mutakhir?

Pada saat yang sama, Menteri Agama sekali lagi merujuk kepada dokumen yang berasal 180 bulan  yang lalu dan  menyebut Surat Resmi Ketua PBNU, 14 Oktober 1997.  Mengapa Menag  mengabaikan pernyataan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj, dua minggu yang lalu, bulan ini, 4 Januari 2012.  “Syiah masih bagian dari ajaran Islam, bagian dari Al Firaq Al Islamiyyah, dan NU tidak gampang memberikan stigma sesat pada aliran lain," tegas Kiai Said di Jakarta, Rabu (4/1).

Kiai Said juga mengatakan, NU tidak gampang memberikan stigma sesat pada suatu aliran juga mengacu pada dasar pendirian NU oleh KH. Hasyim Asyari, yaitu ukhuwah Islamiyah, Wathaniyyah dan Insaniyyah. "(Penilaian) Ini juga sesuai dengan sikap NU yang setia mengawal UUD 1945, tepatnya pasal dua puluh sembilan," tandasnya. (Jakarta, NU Online, 4 Januari).

Pada 3-4 April 2007, Presiden, Pemerintah dan Rakyat Republik Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah menyelenggarakan Konferensi Internasional Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak dan melahirkan Deklarasi Bogor.  Walaupun konferensi itu dimaksudkan secara khusus sebagai kontribusi rakyat Indonesia  bagi rekonsiliasi Sunnah-Syiah di Iraq, Deklarasi Bogor juga menyampaikan secara umum pesan-pesan perdamaian bagi Sunnah-Syiah di seluruh dunia.  Di bawah ini dikutip bagian awal dari Deklarasi Bogor:

Mengingat upaya-upaya untuk meningkatkan saling menghormati keyakinan dan kepercayaan satu sama lain, arti penting penyelesaian konflik secara damai, dialog intra dan antariman, peran pemimpin agama dalam membangun perdamaian, transformasi konflik dan pendidikan perdamaian melalui penyelenggaraan pertemuan-pertemuan berikut ini; International Conference of Islamic Scholars di Jakarta, 23-25 Februari 2004; International Dialogue on Interfaith Cooperation yang di selenggarakan di Yogyakarta, Indonesia, pada 6-7 Desember 2004; International Islamic Conference di Amman, Kerajaan Yordania pada 4 – 6 Juli 2005; East Asia Religious Leaders Forum (EARLF), Jakarta, 11-13 Februari 2006; World Peace Forum (WPF), Jakarta, 14-16 Agustus 2006; Makkah Al-Mukarramah Declaration yang di adopsi pada 19 Oktober 2006; dan Doha Conference for Dialogue of Islamic Schools of Thought Februari 2007;

Memuji Presiden, Pemerintah dan Rakyat Republik Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah karena telah menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak;

Dengan ini kami menyatakan hal-hal sebagai berikut:

1. Mendesak seluruh kaum Muslim, yang mengakui keyakinan mereka dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, untuk menjunjung prinsip-prinsip fundamental tersebut, yang berlaku sama bagi kaum Syiah maupun Sunni sebagai suatu landasan kesamaan bahwa setiap perbedaan keyakinan adalah semata-mata perbedaan pendapat dan penafsiran serta bukan merupakan perbedaan keyakinan yang mendasar atau menyangkut substansi Rukun Islam;

2. Izinkan kami bertanya, mengapa Menag lebih memerhatikan Majelis Mujahidin yang bersifat lokal, dan sektarian  ketimbang mengapresiasi konferensi-konferensi internasional yang menjunjung nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘Alamin.

3. Dengan hormat kami memohon Menag untuk memfasilitasi dialog di antara Sunnah dan Syiah untuk membangun suasana saling memahami, bukan saling menghakimi, saling menghormati bukan saling memaki. Dengan demikian, Menag akan meninggalkan kenangan indah (lisaana shidqin)  bagi kaum muslim khususnya dan umat beragama pada umumnya.

Jakarta, 26 Januari 2012

Ketua Dewan Syura
Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia


Dr K.H. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc.

Jumat, 20 Januari 2012

BIDADARI ITU PEREMPUAN SHOLIHAH

BY: Jalaluddin Rakhmat

“Benarkah hadis yang mengatakan bahwa kebanyakan penghuni neraka itu perempuan?” tanya seorang murid kepada Imam Ja’far. Fakih besar abad kedua hijrah itu tersenyum. “Tidakkah anda membaca ayat Al-Qur’an – Sesungguhnya Kami menciptakan mereka sebenar-benarnya; Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta dan berusia sebaya (QS 56:36-37). Ayat ini berkenaan dengan para bidadari, yang Allah ciptakan dari perempuan yang saleh. Di surga lebih banyak bidadari daripada laki-laki mukmin.” Secara tidak langsung, Imam Ja’far menunjukkan bahwa hadis itu tidak benar, bahwa kebanyakan penghuni surga justru perempuan.

Hadis yang ‘mendiskreditkan’ perempuan ternyata sudah masyhur sejak abad kedua hijrah. Tetapi sejak itu juga sudah ada ahli agama yang menolaknya. Dari Imam Ja’far inilah berkembang mazhab Ja’fari, yang menetapkan bahwa akikah harus sama baik buat laki-laki maupun perempuan. Pada mazhab-mazhab yang lain, untuk anak laki-laki disembelih dua ekor domba, untuk anak perempuan seekor saja. Mengingat sejarahnya, mazhab Ja’fari lebih tua, karena itu lebih dekat dengan masa Nabi daripada mazhab lainnya. Boleh jadi, hadis-hadis yang memojokkan perempuan itu baru muncul kemudian: sebagai produk budaya yang sangat maskulin?

Sabtu, 07 Januari 2012

TAHLIL AYATULLAH HUSSEIN FADLULLAH

Oleh KH. Jalaluddin Rakhmat

Saya pertama kali bertemu dengan Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah pada tahun 1985. Pada waktu itu kami berkumpul di betzah Imam Khomeini ra bersama para wakil umat Islam seluruh dunia di bawah jembatan di magdad. Tidak jauh dari tempat itu terdapat makam Sayyidah Khadijah ra dan makam umum Bani Hasyim. Beliau berbicara dengan bahasa arab yang fasih, dalam arti menggunakan kalimat – kalimat yang sederhana namun terdengar indah. Saya terpaku dan terpesona memandang wajahnya hingga terbersit dalam hati mungkin wajah Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw tampak seperti beliau. Begitu memancarkan kesejukan sekaligus kewibawaan. Dan beberapa kalimat Sayyid Hussein Fadlullah waktu itu masih saya ingat hingga sekarang. Seperti “Sekiranya tidak ada rasa damai bagi Islam dan kaum muslimin, maka jangan biarkan juga ada rasa damai bagi selain Islam.” Beliau juga berkata, “Kepada musuh – musuh yang tidak memberikan rasa tenteram kepada kaum muslimin. Guncangkan bumi dibawah telapak kaki mereka.”

Selasa, 03 Januari 2012

Agama dan Kekerasan

Penulis : Prof DR KH Jalaluddin Rakhmat, M.Sc *)
"Jika aku bisa mengayunkan tongkat sihirku dan harus memilih apakah melenyapkan perkosaan atau agama, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk melenyapkan agama," tulis Sam Harris, yang bersama Daniel Dennett dan Richard Dawkins dikenal sebagai the Unholy Trinity of Atheism.

"Agama sudah semestinya ditinggalkan manusia bukan karena alasan teologis, tetapi -masih kata Harris dalam The End of Faith: Religion: Terror and the Future of Reason - "karena agama telah menjadi sumber kekerasan sekarang ini dan pada setiap zaman di masa yang lalu".

Romo Magnis pernah mengatakan kepadaku bahwa orang menjadi ateis lebih banyak bukan karena pemikiran filsafat atau sains. Mereka menjadi ateis karena tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pengikut agama. Mereka melihat kontradiksi antara apa yang dikhotbahkan dengan apa yang dilakukan.

Rabu, 28 Desember 2011

KISAH IMAM ORANG MISKIN

Prof DR KH Jalaluddin Rakhmat, M.Sc *)

“Hai Ali,” kata Nabi saw kepada salah seorang sahabatnya yang sangat dikasihinya, “orang miskin bangga mempunyai Imam seperti kamu, dan kamu pun bangga menjadi Imam mereka.” Kelak Ali menjadi khalifah Islam yang keempat, menggantikan Utsman. Ia membuat kebijakan-kebijakan yang membela orang miskin dan memotong tangan-tangan para kapitalis yang menindas. Waktu itu, kapitalis disebut sebagai saudagar. Ingin tahu bagaimana khalifah yang adil itu dalam kehidupan sehari-harinya? Simak laporan seorang anak muda yang hidup pada zamannya dan menjadi ulama besar pada zaman berikutnya.

Namanya Syu’bi. “Pada suatu hari aku melewati Baitul Mal (Kantor Pusat Bulog). Imam Ali tengah mengawasi distribusi kekayaan negara. Aku melihat para budak hitam dalam satu barisan bersama para saudagar. Mereka mendapatkan bagian yang sama. Dalam waktu sekejap, tumpukan mata uang emas dan perak habis terbagi. Khazanah negara pun kosong. Imam Ali berdoa dan meninggalkan kantor itu dengan tangan hampa. Ia telah memberikan bagiannya kepada seorang perempuan tua yang mengadu karena bagiannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.” Jangan pikir bahwa karena Syu’bi mengatakan bahwa para saudagar dan budak mendapatkan bagian yang sama, Anda kira Imam tidak adil. Para saudagar itu mendapat jatah yang sama setelah sebagian harta mereka diambil oleh negara. Karena itu, para saudagar membentuk persekongkolan rahasia untuk menjatuhkan Ali. Bersama para pemimpin kabilah, mereka menjauh dari Ali. Utsman bin Hanif, salah seorang sahabat dekatnya, memberikan nasehat kepada Khalifah: “Anda telah berhasil melaksanakan tugas-tugas Anda, mulai dari mekanisme distribusi keuangan publik secara adil, menyama-ratakan bagian bagi para pejabat pemerintah dan rakyat jelata, mengangkat status orang hitam dan Persia sehingga setingkat dengan orang Arab, memberikan bagian sama besar antara budak dengan tuannya, menghapuskan hak-hak istimewa bagi para pejabat pemerintah, dan terakhir menghapus pemberian fasilitas dan tunjangan khusus bagi pejabat. Semuanya itu telah mendatangkan kerugian bagi Anda. Lihatlah, inilah yang menjadi sebab menjauhnya para tokoh dan sudagar Arab dari Anda. Mereka memilih untuk mendekati Muawiyah. Apa gunanya orang-orang miskin, orang-orang cacat, janda-janda tua, dan budak-budak hitam itu bagi Anda? Apakah mereka mampu membela dan melayani Anda?”

Mungkin di zaman sekarang ini, Utsman bin Hanif boleh kita sebut sebagai penasehat khusus Presiden. Dengarkan jawab Sang Khalifah: “Tidak akan aku biarkan para tokoh yang berpengaruh dan saudagar kaya raya mengeksploitasi umat Islam. Aku sangat membenci sistem distribusi uang negara yang tidak adil. Aku tidak akan pernah membiarkan hal seperti ini. Kekayaan ini milik rakyat, berasal dari rakyat, dan diperuntukkan bagi rakyat. Bukan para saudagar dan tokoh yang membuat kekayaan ini. Mereka hanya menjarahnya dari rakyat, mengkorupsi uang pajak dan lain-lainnya. Jumlah pajak yang mereka korupsi jauh lebih banyak daripada yang mereka kembalikan kepada negara. Mereka menyelewengkan dana pajak itu untuk kepentingan pribadi mereka. Perilaku mereka yang korup dan suka menyelewengkan keuangan negara itulah yang menjadi keprihatinanku selama ini. Aku malah gembira jika mereka menjauhiku. Aku tidak mengharapkan pengabdian orang-orang cacat dan orang-orang miskin. Aku mengerti sepenuhnya mereka tidak mampu mengabdi kepadaku. Ketahuilah, aku hanya ingin menolong mereka, karena mereka tidak mampu menolong diri mereka sendiri. Mereka juga manusia sama seperti kamu dan aku. Semoga Allah memberikan kekuatan bagiku untuk menjalankan semua tugas ini.” (Dikutip dengan beberapa perubahan redaksional dari Gold Profile of Imam Ali).

Tuhan memang menganugrahkan kekuatan dan ketabahan pada Imam Ali. Ia bangga memihak rakyat miskin. Ia tidak peduli pada “politicking” yang dilakukan orang-orang kaya. Keadilan harus ditegakkan walaupun langit harus runtuh. Keadilan harus menjadi sistem pemerintahannya, walaupun ia akhirnya terbunuh. Sebagaimana Rasulullah, kaum muslim menyebutnya Imamul Masâkin. George Jordac, penulis dari kaum Kristiani, menyebutnya Shawtul ‘Adâlatil Insâniyyah, Suara Keadilan Insani. Ada orang yang mengkritik Ali sebagai politisi yang gagal. Musuh-musuhnya bertambah. Kawan-kawannya mengkhianatinya. Ia gagal mempertahankan kekuasaannya.

Missi Ali bukan untuk merebut dan menegakkan kekuasaan. Tidak ada satu pun ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk merebut kekuasaan. Al-Quran berpesan, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan, sebagai saksi-saksi untuk Tuhan, walaupun bertentangan dengan kepentingan dirimu, atau orang tuamu, atau karib kerabatmu. Dan jika ia pun kaya ataupun miskin; karena Allah lebih baik dalam melindungi mereka. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil.” (QS. 4:135).

Khalifah Ali kita tampilkan untuk mengingatkan para pemimpin dan pejabat di negeri ini yang berlomba untuk menerbitkan kebijakan yang memotong urat nadi nafkah orang banyak; buat para saudagar yang bekerja sama dengan para pejabat untuk mengeruk keuntungan dari keringat dan darah rakyat kecil; buat para pembuat hukum yang membuat peraturan yang melarang orang berderma atau berdagang di pinggir jalan; juga buat para hakim yang mengusulkan fasilitas dan tunjangan tambahan puluhan bahkan ratusan juta. Duhai, jika sekiranya Ali atau orang seperti Ali menjadi pemimpin negeri ini!

*) Ketua Dewan Syura IJABI

Selasa, 13 Desember 2011

Al-Sajjad, Penerus Misi Asyura

Pada hari Asyura tahun 61 hijriah, padang Karbala saat itu menyaksikan peristiwa heroik yang ditampilkan oleh cucu kesayangan Rasulullah Saw, Imam Husein as dan para sahabatnya yang setia. Pada saat yang sama, Imam Ali Zainal Abidin as, putra Imam Husein as, tergeletak sakit di kemah. Kondisi itu membuat Imam Ali Zainal Abidin as tidak dapat bangkit membantu ayahnya dan para pejuang Karbala. Akan tetapi jiwa Imam Ali Zainal Abidin as yang juga dikenal al-Sajjad atau orang yang banyak bersujud, tak dapat ditahan untuk membantu ayahnya, tapi raga sama sekali tak mengizinkan.
 
Kondisi sakit Imam Ali Zainal Abidin pada hari Asyura mengandung hikmah ilahi dan rahasia Tuhan. Setelah peristiwa Asyura, Imam al-Sajjad mengemban tanggung jawab kepemimpinan demi menjaga risalah kenabian Rasulullah Saw.