Senin, 14 November 2011

PEMBAHASAN MAKNA KATA ‘MAWLA’ DALAM HADIS GHADIR

 “Allah tidak meninggalkan sedikit pun argumen (hujjah) dan bantahan bagi siapa pun setelah peristiwa Ghadir Khum.” (Sayyidah Fathimah AS, Dala’il al-Imamah, hlm. 38. Lihat juga, al-Khisal, Jil. 1, hlm. 173; Bihar al-Anwar, Jil. 30, hlm. 124.)

Sepanjang khotbah Rasulullah Saw di Ghadir Khum, beliau menekankan bahwa khotbahnya itu telah melengkapi hujjah (argumen) Allah atas seluruh manusia sampai Hari Kiamat. Itulah sebabnya Putri Tercinta Rasul, Sayyidah Fathimah As juga menekankan hal yang sama seperti yang saya kutip di atas.

Dengan cara yang sama, Imam Ali As mengingatkan kaum Muhajirin dan kaum Anshar di Masjid Nabawi (setelah mereka berbaiat kepada Abu Bakar), akan hak eksklusif kepemimpinannya atas umat dan perjanjian mereka kepada Rasulullah Saw di Ghadir Khum. Beberapa orang Anshar berdalih kepada Imam Ali, “Wahai Abul Hasan! Andai saja kami, kaum Anshar, mendengar hujjah-hujjah Anda sebelum kami berbaiat kepada Abu Bakar, pastilah tak seorang pun dari kami yang tidak menyetujui perintah Anda.”

Kamis, 27 Oktober 2011

Keadilan Ilahi dan Al-Mahdi

Pendahuluan (1)
Artikel pendek ini menguraikan tentang tiga hal:
  1. Pengertian Keadilan Ilahi, kemustahilan bagiNya untuk melakukan ketidakadilan serta perintah Allah untuk menegakkan keadilan
  2. Bahwa evolusi masyarakat manusia di dunia adalah menuju kemenangan keadilan dan para pengikut keadilan di bawah kepemimpinan Al-Mahdi ‘as.
  3. Pembuktian singkat eksistensi Al-Mahdi ‘as , dan bahwa eksistensi Al-Mahdi ‘as didukung oleh hadis-hadis yang mutawatir baik dari jalur periwayatan Sunni maupun Syi’ah, dan diisyaratkan oleh banyak ayat dalam Al-Quran al-Karim.
  4. Bahwa penantian kehadiran Al-Mahdi ‘as beserta kemenangan keadilan di akhir zaman semestinya meningkatkan daya juang ummat untuk senantiasa tak kenal lelah merealisasikan kebaikan, keindahan dan kebenaran, dan meneggakkan keadilan. Keyakinan terhadap Al-Mahdi ‘as membangun pandangan dunia yang optimis, tidak apatis; membuat agama tidak menjadi candu , namun agama menjadi obat sosiopathology.

Rabu, 12 Oktober 2011

Perjalanan Panjang IJABI

Mukaddimah

Perjalanan sejarah nusantara hingga republik kita hari ini ditandai dengan berbagai unsur kebudayaan yang berinteraksi dengan paham keagamaan yang masuk. Salah satu yang menonjol dan sering menimbulkan banyak perdebatan adalah tradisi masyarakat di nusantara dalam sejarah Islam awal di nusantara. Sehingga polemik sejarah itu tak kunjung usai antara fakta dan mitos. Dalam konteks sejarah perkembangan gerakan ahlulbait atau lebih spesifik paham keagamaan syi'ah di nusantara, kita mendengar dan membaca ada kesan yang tidak tuntas. Tidak sedikit yang mendukung analisis bahwa perkembangan Islam di Indonesia pada awalnya adalah dipelopori oleh Islam syi'ah, tetapi terdapat juga pandangan yang melihat adanya hipotesis tersebut oleh karena merunut pada kesamaan tradisi saja tanpa memiliki signifikansi dengan kerangka teologi dan ideologi politik syi'ah.